Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Mei 2010

Pengertian Teori Resepsi Sastra

Teori resepsi sastra adalah teori pendekatan sastra yang mementingkan pendapat pembaca pada sebuah karya sastra, seperti tanggapan umum yang sering berubah-ubah dalam kurun waktu tertentu. Jadi dalam menilai, mengintrepretasi, dan mengevaluasi sebuah karya sastra berasal dari pikiran dari pembaca. Pendekatan ini berfokus pada analisis tekstual lingkup untuk "negosiasi" dan "oposisi" pada bagian dari pembaca. Ini berarti bahwa teks baik itu buku, film, atau karya kreatif lainnya-tidak hanya pasif diterima oleh pembaca, tapi bahwa pembaca / pemirsa menafsirkan makna teks berdasarkan latar belakang budaya individu dan pengalaman hidup. Pada dasarnya, makna teks tidak melekat dalam teks itu sendiri tapi dibuat dalam hubungan antara teks dan pembaca. Oleh sebab itu, setiap pembaca memiliki persepsi yang berbeda setelah membaca sebuah karya sastra apabila dikaitkan dengan kehidupannya sendiri. Sebagai contoh, orang-orang Yahudi yang berhasil dari holocaust NAZI bisa saja memberikan penilaian betapa menderitanya mereka semasa pembasmian bangsa Yahudi setelah membaca novel The Pianist karya Wladyslaw Szpilman.


Tokoh Teori Resepsi Sastra
Wolfgang Iser (1926 -), yang dianggap sebagai salah satu tokoh paling terkemuka di Teori resepsi, menunjukkan pentingnya proses sastra. Iser mengambil pendekatan fenomenologis Penerimaan Teori dan dia "decontextualizes dan dehistoricizes teks dan pembaca" Iser. berpendapat bahwa keterlibatan pembaca bertepatan dengan arti produksi dalam sastra.

Baca juga: Pengertian Teori Formalisme

Teori resepsi antara lain dikembangkan oleh RT. Segers dalam bukunya Receptie Esthetika. (1978) Di dalam pengantarnya ia menulis: Aan het eind van de jaren zestig werd in weat Duitsland de receptie esthetika geintroduceerd" (RT. Segers, 1978: 9). Ini berarti bahwa resepsi esthetika telah diperkenalkan di Jerman Barat pada akhir tahun 60-an. la menunjuk artikel Roman Jacobson: "Linguisties and Poeties" (1960) yang berisi sebuah model komunikasi. Pada penerbitan yang terdahulu D.W. Fokkema dkk. (1977) menyajikan "The Rezeption of Literature: Theory and Practice of'Rezeptionns aesthetik" dalam bab 5 bukunya yang berjudul "The ories of Literature in The Twentieth Century. Di dalam bab 5 mereka mengutip pendapat Lotman (1972) "Infact, the literary work consist of the text (the system of intra-textual relations) in its relation toextra-textual reality: 10literary norms, tradition and the imagination". Selanjutnya ia mengutip pendapat Siegfried J. Schmidt (1973) "Reception (therefore) occurs as a process creating meaning, which realizes the instructions given in the linguistic appearance of the text" (D.W Fokkema, 1977: 137).

Buku Receptie Esthetika diawali dengan dasar-dasar resepsi estetika yang diletakkan oleh Hans Robert ]auss dan Wolfgang Iser. Menurut ]auss (1970) ada tiga dasar faktor cakrawala hardpan yang dibangun pembaca:

(1) norma-norma genre terkenal teks yang diresepsi;
(2) relasi implisit dengan teks yang telah dikenal dari periode sejarah sastra
yang sarna;
(3) kontradiksi flksi dengan kenyataan.

Ada tiga macam pembaca:
(1) Pembaca sesungguhnya
(2) Pembaca implisit
(3) Pembaca eksplisit

Menurut Segers (1975) pembaca sesungguhnya termasuk kategori yang paling mendapat perhatian, termasuk dalam toori esthetika. Menurut Iser (1973) pembaca implisit adalah peranan bacaan yang terletak di dalam teks itu sendiri, yakni keseluruhan petunjuk tekstual bagi pembaca sebenarnya. Jadi pembaca implisit imanen di dalam teks yang diberikan.

Jumat, 07 Mei 2010

Pengertian Teori Formalisme

Secara Etimologis formalisme berasal dari kata forma (latin), yang berarti bentuk atau wujud. Dalam ilmu sastra, formalisme adalah teori yang digunakan untuk menganalisa karya sastra yang mengutamakan bentuk dari karya sastra yang meliputi tehnik pengucapan –meliputi ritma, rima, aquistik/bunyi, aliterasi, asonansi dsb, kata-kata formal (formal words) dan bukan isi serta terbebas dari unsur luar seperti sejarah, biografi, konteks budaya dsb sehingga sastra dapat berdiri sendiri (otonom) sebagai sebuah ilmu dan terbebas dari pengaruh ilmu lainnya. Teori formalis ini bertujuan untuk mengetahui keterpaduan unsur yang terdapat dalam karya sastra tersebut sehingga dapat menjalin keutuhan bentuk dan isi dengan cara meneliti unsur-unsur kesastraan, puitika, asosiasi, oposisi, dsb.



Tokoh Teori Formalisme
Tokoh teori formalisme berasal dari Rusia yang menamakan dirinya Opayaz, berkembang sekitar tahun 1914-1930. Teoritis formalisme yang sangat terkenal adalah Victor Shklovsky, Boris Eichenbaum, Roman Jakobson, Leo Jakubinsk dan Yury Tynyanov. Boris Eichenbaum memberi penegasan, kaum formalis dipersatukan oleh adanya gagasan untuk membebaskan diksi puitik dari kekangan intelektualisme dan moralisme yang diperjuangkan dan menjadi obsesi kaum simbolis. Mereka berusaha untuk menyanggah prinsip-prinsip estetika subjektif yang didukung kaum simbolis (yang bersandar pada teori-teorinya Alexander Potebnya, seorang filologis Rusia yang terpengaruh Willhelm von Humboldt) dengan mengarahkan studinya itu pada suatu investigasi saintifik yang secara objektif mempertimbangkan fakta-fakta. Di sisi ini, buah pikir dan gagasan kaum formalis tidak bisa dilepaskan dari keberadaan para penyair Futuris Rusia yang kemunculan karya-karyanya pun merupakan reaksi untuk melakukan perlawanan terhadap poetika kaum simbolis tersebut.

Ruang Lingkup Teori Formalisme
Ruang lingkup teori formalisme meliputi karya sastra itu sendiri serta unsur intrinsik yang membangunnya. Ruang lingkup tersebut kemudian dianalisa dengan menggunakan literature devices untuk mengetahui plot/alurnya. Dalam hal ini menganalisa komponen-komponen linguistik yang tersedia di dalam bahasa (fonetik, morfem, sintaksis, maupun semantik, begitu pun halnya dengan ritma, rima, matra, akustik/bunyi, aliterasi, asonansi, dsb.) sepanjang hal itu ada dalam karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan “artistik” yang merupakan sebuah cita rasa sebuah karya sastra.

Sumber dan Referensi
http://cakrawalasastra.blogspot.com/2009/05/analisis-novel_2760.html
http://en.wikipedia/org/wiki/Formalism_(literature)
http://en.wikipedia.org/wiki/Formalist_theory_in_composition_studies

Selasa, 27 April 2010

Pengertian Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra merupakan salah alat kritis sastra. Sastra sendiri merupakan bagian dari masyarakat, jadi tidak aneh jika dikatakan bahwa sastra adalah produk kebudayaan sehingga sastra tidak bisa terlepas dari keberadaban manusia dikarenakan sastra menceritakan tentang kehidupan dari masyarakat itu sendiri.
Bagaimanapun juga, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang sebagai aspek terkecil dari masyrakat  yang sering menjadi bahan sastra, adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat dan menumbuhkan sikap sosial tertentu atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu.

Dari penjelasan di atas dalam dsimpulkan bahwa sosiologi sastra adalah pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan menggunakan analisis teks untuk mengetahiu strukturnya, untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang di luar sastra.