• Please, follow me in Twitter

Thursday, May 12, 2016

Review Sennheiser CX 213

Hampir setiap hari saya selalu berurusan dengan laptop dan smartphone entah menulis, bermain game atau sekedar mendengarkan musik. Biar lebih enjoy, saya pakai earphone agar audionya lebih berkualitas dan all-in masuk di kuping. Tapi masalahnya semua earphone di rumah sudah rusak. Masalahnya lagi, earpods bawaan iPad bekas kemarin yang dibeli via online dipinjamkan ke teman saudara tidak dikembalikan.

Sampai akhirnya saya memutuskan harus beli earphone baru dengan harga di rentang 100 - 200 ribuan dengan kualitas bass mumpuni. So, mulailah kita cari-cari earphone di internet mulai dari menyusuri bukit sampai main hompimpa sama anak tetangga. Akhirnya setelah beberapa abad searching-searching, kepincut sama Sennheiser MX170 dengan harga sekitar 170 ribu. Kenapa Sennheiser MX170? Sennheiser adalah salah satu produsen perangkat audio terkemuka di dunia dengan kualitas produk terkenal sangat berkualitas. Jadi tidak salah kalau sebaiknya saya beli earphone Sennheiser MX170. Tapi masalahnya, saya begitu kurang suka dengan desainnya terkesan murahan dan agak besar di telinga. Earphone ini bukan tipe In-Ear tapi disediakan busa agar tetap nyaman di telinga.

Keputusannya? Saya tidak jadi beli Sennheiser MX170 setelah tidak sengaja melihat Sennheiser CX 213 dengan harga sekitar 230 ribu. Selang beberapa hari budget sudah siap untuk membeli Sennheiser CX 213 di Blibli. Terus terang ini pertama kalinya saya beli di Blibli padahal sebelumnya sudah order di Tokopedia. Menyesal juga sebelumnya kenapa tidak beli barang di Blibli ini padahal itemnya murah-murah kalau yang sediakan Blibli sendiri apalagi gratis pengiriman ke seluruh Indonesia.

Sennheiser CX 213 dari Blibli
Harga tidak selamanya sebanding dengan kualitas, tapi Sennheiser CX 213 jauh lebih baik dari pada Sennheiser MX170. Sennheiser CX 213 bertipe In-Ear artinya semua audio dihasilkan earphone ini masuk di telinga sebab menggunakan ring karet menutupi lubang telinga membuat kita tuli dengan keadaan sekitar. Kalau pakai earphone tipe In-Ear, kemungkinan kalau bom atom jatuh di atap rumah tidak akan kedengaran. Tidak percaya? Coba tanyakan pada tetangga yang bergoyang.

Sennheiser CX 213 disedikan dengan tiga pilihan warna yakni biru, putih dan hitam dengan desain sangat mungil, ringan, praktis dan nyaman dibawa kemana-mana. Setiap box pembelian disertakan ring karet berukuran S,M,L agar pas di telinga.

Sayangnya bass Sennheiser CX 213 mengalami distorsi ketika diputarkan musik heavy bass. Jadi ada yang harus diatur di equalizer music player favorit sobat supaya suaranya tidak pecah. Suara yang dihasilkan dari earphone ini betul-betul mendetail apalagi kalau pakai iPhone. Kalau sobat sejatinya adalah audophile tapi budget minim, saya sangat menyarankan membeli earphone ini kalau budget hanya di sekitaran 200 ribuan. Selain berkualitas dan tahan lama (durable), harga jual kembali earphone ini masih ratusan ribu.

Another problem, kalau tidak dililit dengan rapi atau tanpa penjepit bakal mudah terlilit sendiri (tangled) walaupun sebenarnya tidak susah melepaskan lilitannya. Kenapa? Coba tanyakan pada tetangga yang bergoyang. Eh, bukan bro tapi karena memang kabelnya yang agak licin.

Nah, kalau sudah membeli earphone ini tidak usah di burning. Burning cuman mitos tidak usah dipercaya. Perangkat audio akan jadi lebih baik kalau memang dipakai seperlunya saja seiring waktu. Sebagai kesimpulan, Sennheiser adalah budget earphone dengan kualitas tidak bisa dibilang sempurna tapi sudah lebih dari cukup untuk menikmati file audio.Kenapa? Coba tanyaka... Ehh udah udah