• Please, follow me in Twitter

Monday, February 8, 2016

Saya Tidak Suka Mi Instan

Waktu SD - SMA dulu saya penggemar mi instan apalagi yang rasa mi goreng sama coto ayam. Saking sukanya, sering sekali di rumah masak hampir persis di gambar pembungkusnya karena bahannya cuma sayur-sayuran ditambah bahan-bahan lain sesuai selera.

Tapi seiring waktu sudah tidak begitu berselera dengan mi instan. Bukan karena alergi terus gatal-gatal ya tapi karena kalau habis makan selalu ngantuk! Nah di situ terkadang saya merasa sedih pemirsa. Pernah sekali sarapan mi instan sebelum berangkat ke kampus tapi lama-lama mata jadi berat. Jadinya nyerah sampai ketiduran di kelas. Itupun untung dosennya bukan dosen killer.

Saya juga pikir-pikir efek buruk makan mi instan jangka panjang. Menurut artikel kesehatan pernah saya baca, makan mi instan idealnya cuma sekali sehari. Tapi kalau terpaksa, usahakan tambakan makanan sumber karbohidrat dan protein seperti nasi dan telur. Jangan lupa juga tambahkan sayur-sayuran bergizi tinggi sepeti bayam, sawi, daun bawang, kol, dan sebagainya. Tambahan makanan pada mi instan sangat penting karena sumber energinya tidak lebih 15% jadi sering lemas kan kalau cuman makan mi instan?

Saya mau cerita lagi nih. Waktu kerja di warkop dulu, pernah saya dianggap punya "selera makan selangit" cuman tidak mau makan mi instan tapi ya saya sudah jelasin kalau saya selalu ngantuk abis makan mi instan loh. Eh, malah saya sering dibully sama sepupu. Masa cuma gara-gara itu terus saya ditanya apa alergi juga sama jeruk? Coto? Kepiting?

Bisa ngantuk apa mungkin gara-gara MSG-nya ya berpengaruh sama otak? Entahlah, tapi karena mi instan ini harganya sangat terjangkau jadi kalau lagi bokek ya terpaksa beli mi instan. Yaa ngantuk lagi....