• Please, follow me in Twitter

Wednesday, July 20, 2011

I am Money-Oriented - Part 1

Sejak SMA saya pernah berkeinginan kerja saja bukannya kuliah, apalagi mindset saya saat itu adalah saya-harus-kaya di usia muda. Orang tua juga mendukung keinginan saya itu, tapi keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sebenarnya juga sangat besar.

Selang beberapa hari pengumuman kelulusan saya di SMAN 1 Tellu Siattinge (SMANTEL) saya ikut paman saya ke Siwa bekerja cari uang istilahnya belajar cari uang aja dah. Saya tinggal di ruko beliau dan kebetulan anaknya menjual ponsel dan membuka service ponsel di situ. Di tempat itu saya belajar servis ponsel dan membantu paman saya itu menjemur coklat.

Days passed, saya merasa tertekan dan pengen cepat pulang. Sumpah saya tersiksa di sana, saya tidur di lantai dan sebagai orang yang nebeng belajar di situ saya harus cuci piring (nggak maksa). Kalau nggak ada kerjaan cuma bengong di depan ruko sendirian duduk kayak orang bodo' secara tidak ada orang yang saya kenal. Saya jadi merenung, sepertinya kalau mau sukses itu harus menderita. Saya benar-benar tidak suka term ini.

Akhirnya saya pulang ke Bone, dan mau ke Makassar daftar SNMPTN. Beberapa hari sebelum saya berangkat ke Makassar, paman saya datang bela-belain datang jauh-jauh dari Watampone ke rumah cuma nanyain apa saya mau ikut sama dia atau tidak, malam pula. Saya tidak bisa menjawab ya atau nggak, saya nggak mau juga ngecewain beliau tapi dari wajahnya itu dia sudah tahu jawaban saya. Yang paling saya ingat perkataan beliau sama saya ini: lebih bagus lagi kalau lulus SNMPTN. Itu katanya.

Alhamdulillah, saya lulus SNMPTN dan di terima di Jurusan Teknologi Hasil Ternak Universitas Hasanuddin tapi tidak sampai final semester pertama saya jadi berhenti karena saya merasa salah jurusan. Saya berhenti. Orang tua benar-benar menyesalkan keputusan saya saat itu. Pokoknya saat-saat itu, saya benar-benar down.

Di tahun berikutnya, tahun 2009, saya ikut SNMPTN lagi dan alhamdulilllah diterima di pilihan pertama: Sastra Inggris. Saya senang, karena saya merasa kompetensi saya memang ada di Bahasa Inggris. I love English. Tapi hal lain terjadi lagi, saya jenuh belajar di jurusan ini. Awal-awal masuk kuliah, saya kesulitan beradaptasi dengan kondisi perkuliahan terutama kelasnya, saya berada di kelas paling terakhir, kelas F!

Akhirnya, dilema menyerang, antara berhenti kuliah atau tetap lanjut. Sampai-sampai saya jadi demam dan tidak masuk selama sebulan. My desire to become entrepreneur waktu itu jadi kuat lagi. Tersihir dengan persepsi: kalau mau kaya/sukses gak perlu kuliah, saya jadi mantap berhenti kuliah saja. Saya kemas barang-barang saya di kosan buat pulang kampung. Karena barang-barang saya terlalu banyak, jadinya cuman sebagian saja yang saya bawa pulang.

Akhirnya tiba di kampung, di kampung tambah parah lagi. Seperti orang bodoh gak ada kerjaan! Bengong! Mau jadi apa saya ini yah?

Waktu itu kebetulan ada penerimaan CPNS atau apalah buat ditempatin di beberapa daerah di Indonesia. But I didn't give a damn on it, so it flowed just like wind. Tiba-tiba ada keinginan lagi buat kuliah, ya kuliah! Wah, kenapa saya ini ya? Saya lalu ke Makassar buat kuliah lagi.

Bersambung di Part 2.